Detak-detak kelahiran LUSI
Detak-detak kelahiran LUSI

Kelahiran
seorang bayi memang selalu ditunggu-tunggu, tetapi kelahiran prematur
tentunya tidak pernah diinginkan seorang ibu hamil. Mereka selalu
menginginkan kelahiran normal ketika usia kandungan sudah memenuhi.
Walaupun saat ini tanggal kelahiran bisa dipilih-pilih mencari hari
baik dengan bedah caesar tentunya ![]()
. Menyaksikan detak-detak kelahiran SI Genit Lusi cukup menarik juga
tentunya. Walaupun tidak ada yang mengharapkan kelahirannya, namun Lusi
tetep saja suatu saat akan lahir kedunia
-
: “Looh, Pak Dhe Vicky, yang jadi bidannya po ? Lahirnya premature ya ?”
+: “Hust !”
Semburan lumpur atau dalam bahasa orang geologi disebut Mud Volcano atau Gunung Lumpur bukan hal baru tetapi khusus semburan Lusi merupakan fenomena unik yg mengandung kontroversi. Kali ini kita coba lihat dengan membuat sebuah hipotesa detak-detak kemunculan (kelahiran)
semburan lumpur di Sidoarjo yang masih muda usia ini. Hipotesa ini
disusun berdasarkan data, jurnal ilmiah, diskusi yang ada serta
beberapa hasil seminar yang pernah dilakukan sebelumnya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa proses kelahiran semburan
sejenis ini sebenarnya pernah terjadi sebelum terjadinya semburan Mei
2006. Semburan Bledug Kuwu yang fenomenal, juga gunung lumpur di
Madura, dan juga Gunung Anyar yang paling berdekatan dengan lokasi
Lusi. Bahkan ada kemungkinan sudah pernah direkam sejak jaman Majapahit.
Data awal diambil dari presentasinya Dr. Ir. Rudi
Rubiandini R.S. Staff pengajar di TeknikPerminyakan ITB, beliau juga
sebagai Ketua Majelis Ahli IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan
Indonesia), serta ketua Tim Penyelidik semburan lumpur panas ini. Juga
dari hasil diskusi di IAGI-net, beberapa publikasi ilmiah serta mencoba
dengan olah pikir, tentunya !
Berikut perkembangan sumur BPJ-1 dari 27 Mei hingga 3 Juni 2006.
Menurut Rudi Rubiandini, dalam sebuah Seminar IAGI 29 September 2006,
Detak-detak kelahirannya dapat disarikan beberapa peristiwanya dibawah
ini. Gambar setiap tahapan ini bisa dilihat digambar-gambar dibawah
(klik saja gambar dibawah ini) : (maaf gambar tidak jelas, tumpang tindih karena dikopi sesuai aslinya pdf file)
- 27 May 06 : Pemboran sampai kedalaman 9277 ft (Berlangsung aman tanpa masalah)
- TerjadiTotal Loss pada kedalaman 9297
- Pompa lumpur denganLCM
- TarikRangkaian @ 4241 ft,
- Terdeteksi adanya“Kick”
- TutupBOP
- Killing Well Kemudian Stuck Pipe
- PompaLumpur HiVisPill (40 bbl).
- Semburan pertama (gas dan air) keluar dipermukaan
- Pompa semen (150 bbl, 15.8 ppg)
- (maaf slide ga ada)
- (maaf slide ga ada)
![]()
- Semburan ketiga lalu Cement Plug 20 bbl, 15,8 ppg (2590’–2790’) dan 30 bbl (2100’–2250)
- Rig Down
- Well Abandonment (3 June 06)
Kesimpulan yang diambil oleh Dr Rudi Rubiandini menyatakan bahwa telah terjadi Underground Blow Out (UGBO) pernyataan yang sama dikemukakan oleh Mantan Ketua Umum IAGI Dr Andang Bachtiar.
Kejadian awal ini merupakan kejadian yang sering terjadi dalam sebuah
aktifitas pemboran. Menurut Dr Rudi Rubiandini pula di sebuah media
Republika bahwa di Indonesia ini terjadi 2-3 kali blowout dalam proses pemboran migas. Artinya proses blow out itu bukan hanya pertama kali terjadi tetapi bisa dtangani dengan tepat.
Yang
perlu diketahui juga bahwa sumur BPJ-1 ini bukannya tidak memasang
casing, tetapi pemasangan casing dilakukan tidak seperti yang
diprogramkan. Konon menurut ceriteranya karena adanya kendala operasi
yang mengharuskan pemasangan casing 16 ” terlalu awal. Lihat gambar
disamping ini :
Pemasangan casing yang terlalu awal ini bukan karena perbedaan
formasi. Terlihat bahwa lithologi yang diperkirakan tidak mengalami
perbedaan mencolok untuk batuan-batuan diatas 2365 ft.
Namun dibagian bawah terlihat adanya perbedaan atau missed interpretasi yang pernah saya jelaskan disini dan disini sebelumnya, mengapa hal ini bisa terjadi. Namun dibagian bawah memang sangat mungkin = telah terjadi missinterpretasi .
Batuan yang berwarna biru (batugamping) tidak diperkirakan dijumpai
namun dijumpai batuan kuning (batupasir), sehingga ada lubang tidak di-casing hingga
kedalaman 9297 ft. Seperti yang dijelaskan Pak Rudi padawaktu
mempresentasikan hal ini, bahwa tidak dipasangnya casing ini bukanlah
penyebab utama, karena secara tehnis (engineering) masih diperbolehkan.
(catatan saya : kalau tidak terjadi apa-apa).
Nah selanjutnya disusun sebuah hipotesa yang bersifat kronologi
untuk menjelaskan detak-detak terjadinya semburan lumpur panas ini.
Hipotesi ini belum tentu benar, harus diuji dengan pengukuran detil.
Apakah benar air dari Gunung Penanggungan menjadi sumber air yang
keluar selama ini.
Sebelum kejadian semburan Lusi (Pre Disaster)
Pada awalnya di lokasi Porong tidak terlihat aktifitas mudvolkano
sehebat yang kita lihat saat ini. Namun gejala-gejala regional dengan
unculnya mudvolkano memang jelas teramati baik disekitar Porong masa
purba, maupun juga jaman majapahit seperti yang ditulis disini sebelumnya.
Pada saat itu proses hydrologi terjadi seperti biasa, yaitu masuknya
air kedalam tanah terjadi dan diperkirakan berasal dari Gunung
Penanggungan masuk kebawah kedalam tanah hingga mendekati sebuah
hotspot atau sumber panas. Proses ini sangat diduga membentuk jebakan
uap panas atau hydrothermal ini terjadi tentunya sudah sejak lama.
Proses hydrothermal ini mungkin tidak ada di bagian utara Jawa Timur
ini, karena proses hydrothermal ini hanya terjadi berdekatan dengan
gunung api.
Selain terjadi proses pemanasan air tanah ini, diatas jebakan
hydrothermal ini terdapat batugamping Formasi Kujung yang memiliki
tekanan cukup tinggi. Pengukuran di sumur Porong-1 (7 Km sebelah timur
dari lokasi Lusi), tekanan fluida disini sekitar 9000 psi dengan
kedalaman sekitar 9000 kaki atau sekitar 3000 meter.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa adanya tekanan besar di Formasi Batugamping Kujung, serta adanya pola-pola rekahan (fractures)
yang sudah ada sebelum kejadian. Pola-pola ini dikenali dari data
seismic. Namun sepengetahuan saya, sebelum kejadian tidak ada yang
memetakan adanya rekahan atau patahan Watukosek yang memanjang hingga
lokasi pengeboran.
Awal pengeboran (Early drilling operation)

Seperti yang dituliskan oleh Pak Rudi bahwa tidak terjadi hal-hal yang
serius ketika melakukan pengeboran awal. Hanya terjadi pemasangan
selubung yang terlalu dini (Premature set) seperti yang digambarkan diatas. Hal ini mungkin karena
adanya tekanan yang tidak terduga dibagian atas sehingga harus
dilakukan pemasangan pipa selubung (casing) lagi walaupun baru mengebor
sekitar 2000 feet (kaki), atau sekitar 1000 feet dari casing sebelumnya
di 1300 feet.
Hingga kedalaman 9277 feet pengeboran masih tergolong normal. Pada tanggal 27 May 2006 itu di Jogja
sedang terjadi gempa besar dengan kekuatan 6.3 SR (USGS). Ada yg
menduga gempa ini menyebabkan likuifaksi, namun dibantah dengan
perhitungan yg tertulis disini juga gambar yang dilampirkan Pak Koesoema ketika membuat surat terbukanya disini. Masalah ini masih kontroversi, kita kesampingkan dahulu kali ini.
Kondisi kritis saat pengeboran (Critical moment on drilling)
Kondisi kritis terjadi ketika drilling mencapai kedalaman 9297. Saat itu terjadi kehilangan lumpur dan diikuti dengan kick (lost-gain).
Operasi yang terjadi saat mengalami lost-gain inilah yang
merupakan kondisi kritis pengeboran. Penanganannya memerlukan keahlian
drilling engineer yang berpengalaman menurut Dr Rudi Rubiandini.
Menurut Dr Andang Bachtiar, penanganan yang kurang tepat pada saat
kritis ini yang diduga menyebabkan pecahnya batuan dibawah (underground
fracture (UGBO), mungkin saat penyemenan, atau saat kill well. Dr Rudi
Rubiandini juga meyakini terjadinya UGBO seperti yang tertulis di
harian Kompas, 19 Agustus 2006.
Awal kelahiran (Underground Blow Out - UGBO)
Pada
saat terjadi pecahnya batuan akibat UGBO, maka terjadi aliran fluida
dari batuan dibawah yang bertekanan tinggi masuk ke batuan yang
bertekanan rendah diatasnya.
Menurut teori dalam pengeboran, zona terlemah dalam pengeboran
terletak pada kedalaman dekat dengan casing shoe atau sepatu pipa
selubung. Yaitu sekitar kedalaman 3500 feet. Kedalaman ini sebelumnya
sudah diukur kekuatannya sebesar 14 ppg.
Indikasi terjadinya blow out pada awal ini diindikasi oleh Dr Rudi Rubiandini dalam seminarnya di IAGI bulan September 2006, “Saat erupsi pertama, yang keluar adalah air–asin–panas
dari kedalaman 6150 –6500 ft yang naik sambil menggerus shale ataur
eactive-shale atau mud-diapir pada kedalaman 6100 –1700 ft”. Indikasi
air asin ini menunjukkan bahwa air berasal dari laut yang kemungkinan
besar merupakan air yang berasal dari Batugamping Kujung (Formasi
Kujung).
Mekanisme
semburan seperti ini pernah terjadi di Brunei dimana Shell melakukan
pengeboran di laut yang menyebabkan semburan selama puluhan tahun.
Tingay (2005) meneliti geomechanics di daerah Brunei Darussalam dan
menggambarkan mekanisme UGBO seperti yang tergambar disebelah kanan ini.
Proses transisi (Transition Process)
Pada
saat transisi inilah terjadi penurunan tekanan pada fluida Formasi
Kujung. Tentusaja. Formasi Kujung ini memilki fluida yang bertekanan
hingga 9000 psi dari pengukuran di Sumur Porong-1 yang terletak 7 Km
dari okasi sumur Banjarpanji-1.
Secara mudah dapat dimengerti bahwa akan terjadi selisih tekanan
yang cukup besar ketika fluida di Formasi Kujung ini mengalir keatas,
sambil terus menerus menggerus shale atau batulempung yang dilewatinya.
Hingga pada suatu saat batuan yang memisahkan Formasi kujung dengan
sumber hydrothermal dibawahnya tidak kuat lagi menahan selisih tekanan.
Sesuai dengan perhitungan sebelumnya yang dilakukan oleh ahli-ahli
dari Lapindo ketika memperkirakan bahwa fluida ini akan habis selama 3
bulan. Dan benarlah dugaan ini, yang terjadi setelah tiga bulan adalah
.. ledakan hydrothermal !! Ledakan ini terjadi pada tanggal 27 Agustus
2006, kira-kira 3 bulan setelah awal semburan.
Sangat
beruntung tim penanganan pada saat awal yang dipimpin Pak Rudi
Rubiandini dalam team relief well ini memiliki pengukuran yang cukup
detil dari hari-kehari dengan mencatat besarnya flowrate (debit lumpur ini). Gambar disebelah ini sangat jelas menunjukkan kronologi tersebut.
Sebelum terjadi ledakan hydrothermal juga tercatat adanya runtuhan bawah permukaanyang ditandai dengan berhentinya semburan (intermitten flow) Lihat tanda panah hijau dari catatan asli Dr Rudi Rubiandini disebelah kiri ini.
Paling tidak harus ada pembelajaran sampai saat ini, yaitu ketika terjadi aliran yang mulai “batuk-batuk” (intermitten)
maka dapat diartikan atau diinterpretasikan telah terjadi runtuhan
dibawah sana. Setelah terjadi runtuhan dibawah permukaan maka akan
segera diikuti terjadi amblesan dipermukaan.
Tentunya masih ingat bahwa semburan sempat terhenti selama 30 menit
pada tanggal 20 Maret 2007 yang akhirnya diikuti dengan amblesan
setempat yang menyebabkan lubernya tanggul sebelah barat hingga menutup
jalan raya Porong sejak pekan lalu.
Proses akhir (Late process)

Yang terlihat saat ini adalah proses hydrothermal dimana keluarnya
semburan uap panas yang berasal dari sumber dapur hydrothermal yang
berada dibawah Formasi Kujung.
Air yang keluar saat ini sudah berbeda dengan yang keluar pada saat
awal semburan. Air yang keluar bukanlah air asin (air laut) yang
terjebak pada Batugamping Kujung lagi.
Setelah terbentuknya proses ini jelas terlihat bahwa hanya awal 3
bulan itulah yang merupakan golden time period. Dan sepertinya Dr Rudi
Rubiandinipun sudah terlambat menghambat kelahiran Lusi yg semakin
memanas ini.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa di Mud Volkano lainnya
tidak berkembang menjadi proses hydrothermal seperti Lusi ? Ya, seperti
kita ketahui bahwa sumber panas tentusaja dari proses volkanisme. Mud
volkano atau gunung lumpur di Madura serta di Bledug Kuwu sangat jauh
dari aktifitas volkanisme. Sehingga ketika terjadi atau terbentuk
semburan lumpur ini tiak berkelanjutan. Demikian juga dengan UGBO yang
merupakan kejadian yang sering terjadi dalam pengeboran di migas.
Dimana seringkali pengeboran migas ini berjauhan dengan aktifitas
gunung api.
-
“Pak Dhe, jadi prosesnya itu tidak serta merta ya dhe ?”
+
” Setiap proses itu ada tahapannya, setiap kejadian pasti didahului
gejala, tergantung apakah kita mampu membaca gejala-gejala itu”
-” Jadi yang bener ya seperti kata Pak Dhe ini ?”
+
“Nanti dulu Le, ini namanya hipotesa kronologi yang dibangun
berdasarkan atas data-data yang ada, masih banyak yang harus diuji
apakah hipotesa kronologi ini benar adanya”
Sumber
fluida berdasarkan atas suhu serta penurunan suhu yang dibuat oleh D
Rudi Rubiandini diinterpretasikan ulang. Karena saat ini diketahui
adanya kemungkinan sumber lain dari air tersebut maka diperkirakan
sumber hydrothermal berada pada kedalaman dibawah 9000-10000 feet.
Harus diuji kebenarannya.
Hipotesa diatas tentunya masih bukan berupa bukti kebenaran. Masih
banyak yang harus dilakukan untuk dibuktikan. Misalnya bagaimana dengan
kronologi atau laju amblesan, apakah mendukung atau menolak hipotesa
kronologi detak-detak kelahiran lusi ini. Mungkin Pak Hassanudin dari
geodesi ITB dapat menyumbangkan data laju amblesan dari wkjtu-kewaktu.
Kemudian bagaimana dengan dugaan air dari Gunung Penanggungan ini ? Ini
bisa dibuktikan dengan uji laboratorium terhadap air yang keluar saat
ini, seperti yang disarankan Dr Lambok, seorang ahli hydrologist. Dan
masih banyak lagi uji saintifik terhadap hipotesa detak-detak kelahiran
Lusi ini.
Referensi :
- Presentasi Dr Rudi Rubiandini pada seminar di IAGI tanggal 29 September 2006.
- Present-day stress orientation in Brunei: a snapshot of ‘prograding
tectonics’ in a Tertiary delta, Journal of the Geological Society, Jan
2005 by Tingay, Mark R P, Hillis, Richard R, Morley, Chris K,
Swarbrick, Richard E, Drake, Steve J - Koran, Media, diskusi IAGI-net, dll.




